Saturday, September 24, 2011

.:: DIA BIDADARI TRPELIHARA ::.

WaRkah BuaTmu yG MenaNTi...



jika kelibatnya indah d matamu..

jika santun peribadinya telah menambat hatimu..

jika bait bicara dn tuturnya umpama gemersik suara yg menyedapkan halwa telingamu..

jika keteguhan imannya mampu mentarbiah dn memotivasikan semangat jihadmu..

usah ragu dgn takdir..
ketika salam mu tiada brsambut..
ketika pandangan matamu tdk d endahkan..
ketika usahamu utk menakluk hatinya blum menemui jawapan pasti..

bkn bereerti dia menolak..
namun dia menanti dirimu hadir brsma akad janji dgn jiwa yg sarat dgn keimanan dn kepimpinan~


p/s: jgn biarkan perasaan cinta insani menguasai akal dangkalmu..lbh indah jka cintamu brputik slps akad janji 'pernikahan' ^_^

wallahualam..


Wednesday, September 21, 2011

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala

Kegagalan Nabi Ibrahim dalam usahanya menyedarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya kerana ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sedar bahawa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendapat hidayah ,bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun mempengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang batil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya
Nabi Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anuti dan ajaran yang ia bawa. Dan ternyata bahawa apabila mereka sudah tidak berdaya menolak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Nabi Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebatilan kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan iaitu bahwa mereka hanya meneruskan apa yang bapa-bapa dan nenek moyang mereka lakukan sejak turun-temurun dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.
Nabi Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi untuk berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang keras kepala dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahawa mereka tidak akan menyimpang daripada cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun telah Nabi Ibrahim menasihati mereka berkali-kali bahawa mereka dan bapa-bapa mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan dan iblis. Nabi Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babylon bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka tinggal di luar kota di suatu padang terbuka, berkhemah dengan membawa bekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Nabi Ibrahim yang juga turut diajak turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khuatir bahwa penyakit Nabi Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.
"Inilah dia kesempatan yang ku nantikan.", kata hati Nabi Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada semahan bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Nabi Ibrahim, mengejek:"Mengapa kamu tidak makan makanan yang lazat yang disaljikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu." Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Nabi Ibrahim itu.
Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada hairan dan takjub: "Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mrk ini?" Berkata salah seorang diantara mereka:"Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:"Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." Selidik punya selidik, akhirnya terdapat kepastian yang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dapat diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mereka. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, di mana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.
Dan memang itulah yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mrk yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau diantara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan. Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.
Ketika Nabi Ibrahim datang menghadap Raja Namrud yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka. Ditanyalah Nabi Ibrahim oleh Raja Namrud:"Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merosakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Nabi Ibrahim menjawab:"Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Cuba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." Raja Namrud pun terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat bercakap dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Nabi Ibrahim, maka sebagai jawapan atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Nabi Ibrahim kepada Raja Namrud itu:"Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sihat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."
Setelah selesai Nabi Ibrahim menguraikan pidatonya itu, Raja Namrud mencetuskan keputusan bahawa Nabi Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai hukuman atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mrk, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:"Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya."

Tuesday, September 6, 2011

Mencukur kening.

Soalan:
Perbuatan mencukur kening adalah dilarang. Akan tetapi saya lihat sekarang, mencukur kening sudah menjadi kebiasaan. Saya semakin keliru apabila perempuan yang bertudung pun ramai yang cukur kening. Boleh tak ustaz jelaskan lebih lanjut hukum bagi mereka yang gemar cukur kening ini?
Siti Salbiah, Dungun, Terengganu.

Jawapan:
Mencukur kening memang dilarang sebagaimana hadis berikut: “Rasulullah SAW melaknat wanita-wanita yang membuat tatoo dan meminta ditatoo, wanita-wanita yang mencukur bulu muka (yakni kening) dan meminta dicukur bulu muka, yang merenggangkan gigi kerana kecantikan, mengubah ciptaan Allah”. [Shahih al-Bukhari, no: 4886]
Adapun tindak tanduk wanita bertudung untuk mencukur kening, maka ia bukanlah hujah dalam agama. Wanita bertudung lebih baik dari wanita belum bertudung, namun diri mereka – sedikit atau ramai – bukanlah hujah dalam agama. Islam tidak menjadi amalan orang ramai sebagai hujah sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan jika engkau menurut kebanyakan orang yang ada di muka bumi, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah; tiadalah yang mereka turut melainkan sangkaan semata-mata, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” [Surah al-An’aam, ayat 116]

Kisah Juraij dan Ibunya

Satu masa lalu terdapat seorang ahli ibadah yang bernama Juraij. Beliau banyak beribadah sehingga didirikan sebuah biara untuknya, dan dia tinggal di dalamnya. Suatu ketika ibunya datang pada saat dia sedang mendirikan solat.

Ibunya memanggilnya: “Wahai Juraij!”
Juraij berkata dalam hatinya: “Wahai Tuhan, ibuku (memanggil) padahal aku bersolat.”
Juraij memilih untuk meneruskan solatnya sehingga ibunya pergi.
Pada keesokan hari ibunya datang semula dan Juraij masih sedang bersolat.
Ibunya memanggilnya: “Wahai Juraij!”
Juraij berkata dalam hatinya: “Wahai Tuhan, ibuku (memanggil) padahal aku bersolat.”
Juraij memilih untuk meneruskan solatnya sehingga ibunya pergi.

Pada keesokan hari ibunya datang semula (untuk kali ketiga) dan Juraij masih sedang bersolat. Ibunya memanggilnya: “Wahai Juraij!”

Juraij berkata dalam hatinya: “Wahai Tuhan, ibuku (memanggil) padahal aku bersolat.”
Juraij memilih untuk meneruskan solatnya sehingga ibunya pergi.
Lantas ibunya berdoa: “Ya Allah! Janganlah Engkau matikan Juraij melainkan setelah dia melihat wajah-wajah pelacur!”

Sejak saat itu kaum Bani Israil mula berbincang berkenaan Juraij dan ibadahnya. Ada seorang pelacur yang berdandan cantik berkata: “Jika kalian kehendaki, aku akan menggodanya untuk kalian.”

Maka pelacur itu menawarkan diri kepada Juraij, tetapi Juraij sama sekali tidak mengendahkannya. Lalu pelacur tersebut mendatangi seorang pengembala kambing yang sedang berteduh di biara Juraij, menyerahkan diri kepadanya sehingga pengembala itu menyetubuhinya. Pelacur tersebut menjadi hamil. Ketika anak itu dilahirkan, pelacur tersebut mendakwa: “Ini adalah anak Juraij.”

Maka orang ramai mendatangi Juraij, memaksanya keluar, menghancurkan biaranya dan memukulnya. Juraij bertanya:

“Kenapakah kalian melakukan semua ini?”

Mereka menjawab: “Engkau telah melacur dengan pelacur ini sehingga dia melahirkan anak kamu!”
Juraij bertanya: “Di manakah anak tersebut?”

Lalu bayi itu dibawa kepada Juraij. Dia berkata: “Biarkan aku, aku ingin bersolat terlebih dahulu.”

Maka Juraij bersolat. Setelah selesai, Juraij mendatangi bayi tersebut, memukul di perutnya, lalu bertanya: “Wahai bayi, siapakah ayah kamu?”

Bayi itu menjawab: “Ayahku adalah seorang pengembala kambing.”

Tatkala mendengar jawapan tersebut, orang ramai kembali kepada Juraij, menyentuhnya dan menciumnya (kerana mereka telah bersalah dalam menuduhnya) dan berkata: “Kami akan membangunkan semula biara kamu yang kami hancurkan dengan emas.”

Juraij menjawab: “Tidak, tetapi bangunkanlah ia dengan tanah sebagaimana asalnya.”

Demikian sebuah kisah benar yang berlaku kepada umat terdahulu yang diceritakan oleh Rasulullah s.a.w.. Ia diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab sahihnya, hadis no: 2550.

Tujuan saya mengemukakan hadis di atas bukan untuk menganjurkan ibadah di biara, kerana itu hanya khusus kepada syariat umat terdahulu dan bukan kepada kita, umat Muhammad. Bagi kita, keluar ke khalayak masyarakat untuk menyeru ke arah kebaikan dan menegah daripada kemungkaran adalah lebih utama.

Tujuannya juga bukan untuk membicarakan fenomena bayi yang dapat bercakap ketika masih di buaian, ia adalah karamah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih demi sesuatu maslahat yang dikehendaki-Nya. Tujuan saya ialah bagi menerangkan bahawa antara solat dan ibu, ibu memiliki kepentingan yang lebih tinggi di dalam neraca Islam. Ini kerana berbuat baik kepada ibu – sekalipun sekadar menyahut panggilannya – adalah ibadah sebagaimana mendirikan solat adalah ibadah. Di antara dua ibadah ini, berbuat baik kepada ibu adalah lebih utama.

Namun ini tidaklah bermakna seseorang itu tidak perlu solat. Dia tetap solat, hanya waktu solatnya disesuaikan dengan kewajipan berbuat baik kepada ibu. Sebagai contoh dalam kes di atas, Juraij hanya perlu menyahut panggilan ibu dan memenuhi hajatnya, lalu setelah itu menyambung kembali solatnya. Bagi menguatkan kedudukan ibu di dalam neraca Islam, berikut saya kemukakan sebuah lagi perbandingan.

Sama-sama kita ketahui bahawa turun ke medan jihad bagi memerangi musuh dan menegakkan Islam adalah amalan yang utama lagi penting. Akan tetapi adakah ia lebih utama dan penting daripada berbuat baik kepada ibu? Pada zaman Rasulullah s.a.w., seorang sahabat bernama Jahimah r.a. datang menemui baginda meminta pandangan untuk ikut serta dalam ekspedisi jihad.

Rasulullah bertanya: “Adakah kamu masih mempunyai ibu?”

Jahimah menjawab: “Ya.”

Lalu Rasulullah bersabda: “Tinggallah bersamanya kerana sesungguhnya syurga terletak di bawah tapak kakinya.” [Shahih Sunan al-Nasai, no: 3104]

Di samping kita memperhatikan kepentingan berbuat baik kepada ibu, tidaklah bermakna kita mengabaikan ayah. Islam tetap menekankan berbuat baik kepada ibu dan ayah. Hanya jika dibandingkan antara kedua-duanya, maka berbuat baik kepada ibu adalah tiga kali lebih penting berbanding berbuat baik kepada ayah.

Dalam sebuah hadis yang saya yakin para pembaca sekalian pernah mendengarnya, seorang lelaki datang menemui Rasulullah dan bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layan dengan sebaik-baiknya?”

Baginda menjawab: “Ibu kamu.”

Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”

Baginda menjawab: “Ibu kamu.”

Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”

Baginda menjawab: “Ibu kamu.”

Dia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”

Baginda menjawab: “Ayah kamu.” [Shahih al-Bukhari, no: 5971]

Jika dikaji kesemua hadis-hadis di atas, akan didapati bahawa kepentingan berbuat baik kepada ibu berlaku sepanjang masa. Ia tidak terhad kepada hari tertentu sahaja. Maka pastikan dalam aktiviti harian, mingguan, bulanan dan tahunan, diselitkan agenda berbuat baik kepada ibu sekalipun sekadar menalifonnya, menghantar emel, pesanan ringkas atau surat.

Friday, August 19, 2011

Ciri-ciri Menyintai Rasulullah


Rasulullah berhak meraih cinta umatnya kerana baginda adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah, memiliki akhlak yang luhur dan jalan yang lurus, mengasihi umatnya, memberi petunjuk kepada umatnya, menyelamatkan umatnya dari neraka dan menjadi rahmat kepada seluruh alam.

Mencintai Nabi Muhammad SAW adalah kesan kesaksian kita bahawa Muhammad itu utusan Allah yang menjadi sebahagian daripada kalimah syahadah.

Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah SAW memiliki ciri tertentu antaranya:
  • Mentauhidkan Allah. Hikmah utama diutusnya rasul termasuk Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyeru manusia kembali kepada tauhid yang murni dan menentang syirik.
Firman Allah yang bermaksud: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang rasul (agar menyeru mereka). Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhi Taghut." (Surah al-Nahl, ayat 36)
Untuk membuktikan kasih sayang kita kepada Nabi Muhammad SAW, hendaklah sekalian umat Islam menghindari amalan syirik dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah. Mentauhidkan Allah adalah bukti paling kukuh menunjukkan kita mencintai Nabi Muhammad SAW.
  • Mempelajari al-Quran, memahaminya, mengamalnya dan menyebarkan ajarannya. Antara tanda mencintai Rasulullah SAW adalah dengan memanfaatkan al-Quran yang menjadi mukjizatnya dalam segala aspek kehidupan kita.
Ibnu Mas'ud berkata: Janganlah seseorang menanyakan untuk dirinya, kecuali al-Quran. Apabila dia mencintai al-Quran, maka dia mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Untuk merealisasikan makna mencintai al-Quran hendaklah kita mempelajari dan memahami isi kandungan dan beramal dengannya serta menyebarkan pengajaran yang terkandung dalamnya kepada seluruh umat manusia.
  • Mentaati Sunnah Nabi SAW, satu lagi tanda yang jelas menggambarkan perasaan sayang kita kepada Nabi Muhammad SAW dengan mengerjakan sunnahnya, mengikuti perkataan dan perbuatannya, menjalankan perintahnya dan menghindari larangannya.
Firman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya pada diri Rasulullah itu terdapat contoh ikutan yang baik bagi kamu, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredaan) Allah dan (balasan baik) hari akhirat serta dia pula menyebut dan mengingati Allah banyak-banyak (dalam masa susah dan senang)." (Surah al-Ahzab, ayat 21)
  • Menyebarkan sunnah Nabi SAW. Mencintai Nabi SAW bukan sekadar hanya taat kepada sunnah baginda, tetapi hendaklah kita bersungguh menyampaikan serta mengajarnya untuk menyambung tugasan baginda. Jika kerja dakwah baginda tidak ada kesinambungan, pasti sunnahnya akan mati dan digantikan amalan yang bercanggah dengan syarak.
  • Sentiasa memuji dan mengingatinya. Mencintai Nabi Muhammad SAW, bermakna baginda sentiasa berada di hati kita. Oleh itu, kita hendaklah memperbanyakkan membaca serta mempelajari sejarah hidup baginda serta berusaha untuk menjadikan perjalanan hidup baginda sebagai cahaya menyuluh perjalanan kita.
  • Mencintai mereka yang dicintai Nabi SAW. Antara tanda cinta kepada Nabi SAW adalah mencintai mereka yang dicintai baginda seperti isteri-isterinya, ahli keluarga dan sahabatnya serta seluruh umat Islam yang berpegang teguh dengan ajaran baginda.
  • Membenci orang yang dibenci Nabi SAW. Hendaklah kita membenci serta menjauhkan diri daripada mereka yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya seperti golongan yang kufur kepada agama Allah dan mereka yang bergelumang dengan perbuatan bertentangan syarak.
  • Membela Nabi SAW daripada serangan golongan munafik. Dewasa ini kita melihat institusi kenabian, hukum-hakam Allah serta sunnah baginda sedang hebat diperlekehkan kelompok munafik.
Oleh itu, tanda kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW adalah membantah hujah golongan itu dan membela baginda dengan memberi penjelasan kepada seluruh umat Islam terhadap isu batil yang dibangkitkan musuh Allah itu.

Demikianlah antara tanda yang menggambarkan hakikat sebenar mencintai Nabi Muhammad SAW. Jelas di sini mencintai Nabi SAW bukan satu perkara yang datang hanya setahun sekali. Mencintai Nabi Muhammad SAW adalah satu proses berterusan dan sentiasa perlu diberi perhatian setiap waktu dan ketika oleh seluruh umat Islam.

9 Mimpi Rasulullah


Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan……..”
1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah di datangi oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat menggerunkan untuk mengambil nyawanya, maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.
2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat WUDUKNYA YANG SEMPURNA.
3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS kepada Allah.
4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab, tetapi SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK telah melepaskannya dari seksaan itu.
5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga di halang dari meminumnya, ketika itu datanglah pahala PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH S.W.T. memberi minum hingga ia merasa puas.
6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.
7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadaan gelap gelita di sekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH S.W.T. lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang - benderang.
8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidakpun membalas bicaranya,maka menjelmalah SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya, lalu berbicara mereka dengannya.
9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH S.W.T. lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.
BERSABDA RASULULLAH S.A.W. : “SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT”

Perbezaan Semut & Manusia‏


1. Di zaman Nabi Allah Sulaiman berlaku satu peristiwa, apabila Nabi Allah Sulaiman nampak seekor semut melata di atas batu; lantas Nabi Allah Sulaiman merasa hairan bagaimana semut ini hendak hidup di atas batu yang kering di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Nabi Allah Sulaiman pun bertanya kepada semut: ” Wahai semut apakah engkau yakin ada makanan cukup untuk kamu”.
2. Semut pun menjawab: “Rezeki di tangan ALLAH, aku percaya rezeki di tangan ALLAH, aku yakin di atas batu kering di padang pasir yang tandus ini ada rezeki untuk ku”. Lantas Nabi Allah Sulaiman pun bertanya: ” Wahai semut, berapa banyakkah engkau makan? Apakah yang engkau gemar makan? Dan banyak mana engkau makan dalam sebulan?”
3. Jawab semut: “Aku makan hanya sekadar sebiji gandum sebulan”. Nabi Allah Sulaiman pun mencadangkan: “Kalau kamu makan hanya sebiji gandum sebulan tak payah kamu melata di atas batu, aku boleh tolong”. Nabi Allah Sulaiman pun mengambil satu bekas, dia angkat semut itu dan dimasukkan ke dalam bekas; kemudian Nabi ambil gandum sebiji, dibubuh dalam bekas dan tutup bekas itu. Kemudian Nabi tinggal semut didalam bekas dengan sebiji gandum selama satu bulan.
4. Bila cukup satu bulan Nabi Allah Sulaiman lihat gandum sebiji tadi hanya dimakan setengah sahaja oleh semut, lantas Nabi Allah Sulaiman menemplak semut: “Kamu rupanya berbohong pada aku!. Bulan lalu kamu kata kamu makan sebiji gandum sebulan, ini sudah sebulan tapi kamu makan setengah”.

5. Jawab semut: “Aku tidak berbohong, aku tidak berbohong, kalau aku ada di atas batu aku pasti makan apapun sehingga banyaknya sama seperti sebiji gandum sebulan, kerana makanan itu aku cari sendiri dan rezeki itu datangnya daripada Allah dan Allah tidak pernah lupa padaku. Tetapi bila kamu masukkan aku dalam bekas yang tertutup, rezeki aku bergantung pada kamu dan aku tak percaya kepada kamu, sebab itulah aku makan setengah sahaja supaya tahan dua bulan. Aku takut kamu lupa”. Itulah Iman Semut!!

IMAN MANUSIA??

6. Di zaman Imam Suffian, ada seorang hamba Allah yang kerjanya mengorek kubur orang mati. Kerja korek kubur orang mati bukan kerja orang ganjil. Bila ada orang mati, mayat terpaksa ditanam, oleh itu kubur perlu digali dulu. Tetapi yang ganjil mengenai hamba Allah ini ialah dia tidak gali kubur untuk tanam mayat.
7. Sebaliknya apabila orang mati sudah ditanam, waris sudah lama balik kerumah dan Munkar Nakir sudah menyoal, barulah penggali ini datang ke kubur untuk korek balik.
8. Dia nak tengok macam mana rupa mayat setelah di INTERVIEW oleh Munkar Nakir. Dia korek 1 kubur, 2 kubur, 3 kubur, 10 kubur, 50 kubur sampai 100 kubur. Lepas itu, penggali pergi kepada Imam Suffian dan bertanya kepadanya: “Ya Imam, kenapakah daripada 100 kubur orang Islam yang aku gali, dua sahaja yang mana mayat di dalamnya masih berhadap kiblat. Yang 98 lagi sudah beralih ke belakang?”.
9. Jawab Imam Suffian:” Diakhir zaman hanya 2 dari 100 umat Islam yang percaya rezeki itu di tangan Allah. 98 orang lagi tidak percaya bahawa rezeki di tangan Tuhan”. Itulah sebabnya apabila umat Islam tertekan dengan SOGOKAN duit yang banyak, biasanya, iman dia akan beralih. Nyatalah iman semut lebih kuat dari iman manusia.
10. Kata Saidina Ali kepada Kamil: ” ILMU ITU LEBIH BAIK DARIPADA HARTA, ILMU MENJAGA ENGKAU DAN ENGKAU MENJAGA HARTA, ILMU MENJADI HAKIM, HARTA DIHAKIMKAN, HARTA BERKURANGAN APABILA DIBELANJAKAN DAN ILMU BERTAMBAH APABILA DIBELANJAKAN”.